Sabtu malam. 26 April 2009 telah terjadi suatu kebakaran hebat di sebuah komplek perumahan elit di sudut
*di pengungsian
Dewi : ayah.. anak kita mana ? (berteriak sambil memegang tangan suaminya dan melihat kesekelilingnya)
Leo : sabar bu, pasti anak kita ketemu. DEBBYYYY !! DIMANA KAMU NAAAK ! (berteriak seakan suaranya dapat menyaingi suara sirine mobil pemadam kebakaran yang berlalu lalang)
Tak lama kemudian, setelah berjam – jam berteriak dan mencari di antara kerumunan orang – orang yang panic berusaha menyelamatkan diri, akhirnya mereka menemukan anaknya.
Debby : ayah !! ibu !! (berlari menuju orang tuanya)
Dewi : debby ! kamu taka pa nak ? ayo kita kepengungsian sekarang (menggandeng anaknya menuju pengungsian)
Setelah beberapa hari di pengungsian, hidup keluarga debby berangsur membaik. Namun, nasib
Hingga pada suatu hari …
Mey : permisi, ibu dan bapak. (mendatangi keluarga debby dengan senyum)
Leo : iya.. ada apa bu ? (penuh keheranan)
Mey : kami dari dinas pendidikan
Leo dan Dewi berpandangan penuh keheranan. Debby yang sedari tadi mendengar percakapan mereka hanya diam dan sibuk dengan gambar – gambar yang tidak ada yang tahu apa maksutnya.
Setelah lama berdiskusi akhirnya dewi dan leo mengizinkan anaknya untuk bersekolah kembali. Debby yang kembali mendengar hal seperti itu hanya bisa diam dan terkejut.
*di sekolah
Guru : selamatt pagi anak – anak !
Murid : pagi buuu !
Guru : hari ini kalian akan mendapatkan teman baru.
Hanif : ihiyyy. Siapa bu ? cewek gak ? kalo cewek, kayaknya cucok deh ama eke. ( dengan
Pipit : ish, HANIF !! kamu kok gitu sih ?! aku mau kamu kemanain ? (dengan nada dan
Hanif : elo ?! ke laut aje sono mojok ama julung – julung !
Pipit : wooo… woooo.. malesin !
Seisi kelas kembali tertawa….
Wiwin : tunggu ! (sontak membuat kelas kembali diam) semoga aja cowok trus mirip kimbum deh. Hihihi
All : huuuuuu……
Wiwin : yeee apa salahnya sih berharap. (membela diri)
Guru : SUDAH ! TENANG SEMUANYA ! debby, silahkan masuk (melambai ke arah pintu kelas)
Ketika debby jalan masuk perlahan ke dalam kelas. Ia sadar bahwa murid – murid yang berada dalam kelas itu melihatnya dengan sorotan menjijikan seperti melihat sampah.
Iksan : bu ! gak salah kah ?! orang cacat kok bisa masuk di sekolah se-elit ini sih ? (berteriak meremehkan)
Guru : tutup mulut kamu ! (menunjuk ke arah iksan) debby silahkan perkenalkan dirimu. (tersenyum ke arah debby)
Debby : nama saya DEBBY CARISSA PUTRI. ( dengan nada dan ekspresi yang datar)
Iksan : waww ! nama yang cantik. Tapi sayang gak secantik mukanya! Hahahahah.
Nidya : hush ! mana bole begitu kamu san, dia itu sebenernya cantik cuman sayang CACAT ! hahaahh ( tertawa meremehkan)
Wiwin : hey ! udah udah donk mujinya. Kalian gak liat kah mukanya debby udah kayak kebakar gitu ? hahahha
Guru :SUDAH ! debby silahkan pilih tempat dudukmu.
Rahmat : sini debb, duduk sama aku aja ( sambil menepuk kursi di sebelahnya )
Debby sadar ketika ia berjalan banyak orang – orang disekitarnya bahkan warga satu kelas melihatnya dengan tatapan jijik seperti menatap sampah busuk yang belum dibuang selama bertahun – tahun.
Rahmad yang menyadari akan hal itu hanya dapat menggelengkan kepala saja. Dan ketika debby tiba di tempat duduknya. Rahamd segera menyapanya.
Rahmad : hai debb. Yang sabar aja ya ngadepin anak – anaknya. Kenalin nama aku rahmat tapi kamu bisa panggil aku ame. (mengulurkan tanganya kea rah debby namun debby tidak menggubrisnya, rahmad segera menarik kembali tangannya)
Guru : baik, kita mulai pelajarannya. Buka buku kalian halaman 83 bab 2 tentang sosialisasi Negara.
Selama pelajaran berlangsung, rahmad memandangi debby dengan tatapan iba. Debby yang sadar akan penglihatan rahmad, iapun menoleh tanpa mengucapkan sepatah katapun. Rahmad yang sadar akan hal itu segera memalingkan wajahnya.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi.
Tika : debbyyy (berlari kecil menuju meja debby) ke kantin yuukkk ! (namun debby tidak merespon teriakan Tika)
Tika : oiya lupa. Hhehehe. (menjulurkan tangannya kea rah debby) kenalin nama Retri Atika tapi kamu bisa panggil aku TIka J (namun debby tetap tidak meresponnya)
Tiba – tiba…
Iksan : hahaha. (tertawa meremehkan) percuma kamu tik ngajak dia kenalan ! dia gak bakal mau denger kamu ! gimana mau denger, orang tuli kyak gitu mau kmu ajak ngomong panjang lebarpun dia gak akan denger ! hahaha
Hanif : mending kamu gabungg sama kita – kita aja tik. Gue traktir deh. (berjalan menuju Tika) untuk cewek semanis kamu, aku traktir deh. (mencolek dagu Tika).
Tika : (menebas tangan Hanif) kalian apa – apaan sihh ! kalian gak punya hati kah ? dia tu lagi kena musibah. Seharusnya kalian itu…
Nidya : bla bla bla bla (memotong ucapan tika ) aduhh mbanyaaa. Kalo mau kotbah jangan di sini. Sono noo (menunjuk k arah lapangan) di lapangan biar di denger sama semua orang. Hahaah.
Wiwin : haha. Iya, bener bangettt. Gak usah jadi sok pahlawan loe di sini !
Debby yang sedari tadi hanya diam mendengar semuanya, tiba – tiba ia menggebrak meja dan melihat ke arah Iksan, Hanif, Nidya, dan Wiwin secara bergantian dengan ekspresi datar dan seakan ia berbicara dengan matanya yang mengisyaratkan agar mereka cepat pergi dari hadapannya.
Pipit : ih wow.. cacat bisa marah juga ya. Ihhh atuuttttt. Hahahh
Kini berganti, mata debby menyorot tajam kea rah Pipit.
Pipit : woo.. woo.. woo.. santai aja dong ya
Merekapun pergi meninggalkan kelas dengan pandangan meremehkan kea rah Debby. Setelah mereka pergi Debby kembli ke tempat duduknya dan menulis lagi.
Rahmad : (menepuk pundak debby) sabar ya debb ! mereka emang gitu, palingan kalo mereka cape, mereka berenti sendiri kok.
Debby : (melihat kea rah tangan rahmad yang bertengger ke pundaknya seakan mengisyaratkan untuk menyingkirkan tangannya)
Rahmad : (melepaskan tangannya dari pundak debby dan berpaling kea rah tika yang masih berada di sampingnya) ya udah deh. Tadi kamu mau ke kantin
Tika : ya udah deh, tapi deb kmu yakin gak mau ikut ke kantin ?
Debby : GAK !! MAKASIH ! (tanpa melihat kea rah mereka berdua)
Tak lama kemudian bel pulang sekolah berbunyi.
Iksan : nid, pit, win, duluan yaaa ! (sambil melambai dan keluar kelas)
Hanif : aku juga ya ! banyak job aku hari ini.
Nidya : wooo… semprul ! mangkal dimana lagi ntar malam ? (yang teraksa menghentikan langkah hanif)
Hanif : (beralik kea rah nidya) ih. Mau aza deh yuuuu. Hahah. Eke pulang duluan ya boo ( melambai kijil ala banci)
Nidya, pipit dan wiwin melihat kea rah meja debby. Mereka melihat debby yang sedang membereskan buku – bukunya. Mereka menghampiri debby.
Nidya : uppppss !!... (menjatuhkan buku – buku di atas meja debby) sorry debb… sengaja ! ahahha
Debby : (melihat ke arah bidya dengan geram)
Nidya : (santai tapi takut) knapa mau marah kah ? emang bisa ? upps sori,
Debby : (menarik kerah baju nidya dan berbisik) …. (debby melepaskan kerah baju nidya dengan senyum licik dan kembali merapikan buku yang terhambur)
Pipit : (menarik nidya) heh kamu knapa nid ? kok pucat ? emang bisu ini bisa ngomong juga kah ?
Nidya : aa. Ha. Eh iya. Aku kaget ternyata bisu ini juga bisa ngomong dan kmu tau gak suaranya tu lembut banget lhoo. Sampe rasanya gendang telinga ku mau pecah. Ahhahaha
Pipit : (maju selangkah dan menginjak tangan debby yang sedang merapikan buku di lantai) uppss. Sori debb gak liat. Heheh. Tapi sengaja. Hahha. Itu ganjaran buat kamu yang udah narik kerah baju temenku.
Tika : (mendorong tubuh pipit) kamu tu apaan sih pit ! kamu gak punya hatikah ? belum cukup kah daritadi kmu sama yang lain ngookin debby terus ? hah ?
Wiwin : (balas mendorong tika) kamu kok sibuk sih ? debbynya aja diam aja kok. Gak usah sok jadi pahlawan coba. Orang kyak debby tu gak perlu ada pahlawannya ! ( menunjuk kea rah debby)
Tika melayangkan tangannya kea rah wiwin, namun tangannya di tahan oleh nidya.
Nidya : mau ngapain kamu ? (menghempaskan tangan tika ) gak usah main tangan dong ya
Tika : arrgghhh ! mending kalian pulang
Saat tika berbalik badan, ternyata debby sudah siap untuk keluar dari kelas dengan wajah yang dingin.
Tika : mau pulang ya debb ? ku anter ya ?
Debby : (diam dan mengangkat alis) minggir !
Tika : (menyingkir dari pintu dan memberikan debby jalan untuk keluar)
Debby keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tika yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dan berpikir.
Tika : ckck.. ada aja ya orang yang dingin kayak gitu, aku ikutin ah.
*di pengungsian
Dewi : gimana sekolahmu nak ?
Debby : biasa aja bu ( ekpresi datar)
Leo : lantas, kenapa wajahmu seperti itu ?
Debby : aku hanya sedang memikirkan bagaimana membuat darah bicara.
Dewi dan leo bertatapan sesaat, kemudian mereka tersenyum
Dewi : apakah kita akan melakukannya lagi ?
Leo : sepertinya begitu bu..
Tergambar senyuman lebar dan canda tawa di wajah mereka. Sampai – sampai mereka tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamati mereka di kejauhan. Yaitu Tika.
Tika : (tersenyum) aku senang melihat mereka tertawa lepas seperti itu
Tika berjalan pulang dengan senyum lebar di wajahnya.


